Skip to content
Home » Informasi » ISBI Aceh, Penyelamat Sastra dan Budaya Aceh

ISBI Aceh, Penyelamat Sastra dan Budaya Aceh

Bahasa dan sastra merupakan instrumen penting dalam perkembangan budaya suatu bangsa. Hal ini disebabkan bahasa dan sastra dapat menjadi lokomotif yang dapat membawa suatu bangsa mencapai kejayaan. Bangsa-bangsa yang berjaya pada masa lampau seperti bangsa Persia dan Yunani, mempunyai tradisi kesusastraan yang kuat. Bahasa dan sastra digunakan untuk menyampaikan ide-ide yang dapat mempromosikan budaya dan dapat juga memengaruhi bangsa lainnya.

Bahasa dan sastra juga memengaruhi kedudukan Aceh yang pernah menjadi pusat keilmuan, keagamaan, dan pengetahuan yang bertaraf internasional. Banyak penyair hebat lahir pada saat itu. Sastra Aceh merupakan salah satu tinggalan terpenting dalam kebudayaan Aceh. Dalam tradisi kesusastraan masyarakat Aceh, sastra lisan merupakan pelopor pertama lahirnya karya sastra pada masa lampau. Barulah kemudian pada abad 14 lahir karya sastra dalam bentuk tulisan. Sastra Aceh dikelompokkan dalam genre sastra klasik atau sastra lama yang memiliki ciri: a) bersifat anonim, pengarangnya tidak diketahui, b) bentuknya tuturan lisan yang diceritakan dari mulut ke mulut, c) diwariskan secara turun-temurun lintas generasi, d) apabila dalam bentuk puisi maka unsur sanjak dan rima lebih dominan. Razali Cut Lani dalam bukunya berjudul “Kesusastraan Aceh”, menyebutkan jenis sastra lama yang berkembang di Aceh, yaitu narit maja, neurajah, hiem, dan panton. Masing-masing jenis sastra tersebut memiliki fungsi dan kedudukan yang berbeda dalam masyarakat.

 

Beberapa karya sastra Aceh yang adalah Hikayat Prang Sabi, Hikayat Raja Jeumpa, dan Hikayat Malem Diwa. Karya-karya tersebut tidak hanya memiliki nilai sastra yang tinggi, tetapi juga memberikan wawasan pengetahuan, informasi sejarah, dan perjalanan peradaban budaya Aceh dari masa ke masa.

Saat ini bahasa dan sastra Aceh menghadapi tantangan besar dalam pelestariannya. Meningkatnya perubahan budaya dan sosial masyarakat secara global, menjadi problematika besar dalam persoalan bahasa dan sastra. Di beberapa bagian daerah Aceh, bahasa Aceh tidak lagi menjadi bahasa ibu dalam keseharian milenial Aceh. Hal tersebut tampak dari realitas yang gamblang di lingkungan kita sehari-hari. Yang lebih mengkhawatirkan adalah berbahasa Aceh mulai dianggap kampungan oleh sebagian kalangan milenial. Ini adalah problem dan menjadi tugas besar bagi siapa pun yang kiranya berdarah Aceh.

Penggunaan bahasa juga dipengaruhi oleh tingkat penguasaan suatu bahasa, semakin baik penguasaannya maka semakin baik pula penggunaannya dalam berkomunikasi.

Melihat kontribusi bahasa sangat besar untuk kehidupan manusia, sudah sepatutnya perhatian terhadap pembelajaran dan pelestarian bahasa harus kembali ditingkatkan, terutama terhadap bahasa daerah. Setiap daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke memiliki bahasa daerahnya masing-masing.

Dalam rangka melestarikan bahasa dan sastra Aceh, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, dan para ahli bahasa dan sastra Aceh. Langkah penting tersebut hendaknya strategis dan taktis, tidak hanya wacana apalagi dokumen semata. Sebagai perguruan tinggi negeri seni satu-satunya di Aceh, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh mengambil peran dengan mendirikan Program Studi (Prodi) Sastra dan Budaya Aceh dan Prodi Bahasa Aceh. Prodi ini menawarkan program pengkajian dan pembelajaran Bahasa dan Sastra Aceh.

Langkah taktis ini dilakukan guna memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan bahasa dan sastra Aceh tetap terjaga dan terlestarikan.

Prodi Sastra dan Budaya Aceh dan Prodi Bahasa Aceh ISBI Aceh tentu menjadi harapan nyata, tidak hanya berperan dalam pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Aceh, tetapi menjadi lokomotif dalam merawat gerbong-gerbong bahasa di kewilayahan Aceh seperti bahasa Alas, Gayo, Devayan, Aneuk Jamee, dan lainnya. Dua prodi ini diharapkan dapat berperan dalam mempromosikan bahasa dan sastra Aceh melalui penelitian, pengembangan dan proses internalisasi kepada masyarakat Aceh.

Oleh karena itu, Prodi Bahasa dan Sastra Aceh tentu menjadi amat penting bagi pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Aceh. Hal ini juga dapat memperkuat identitas dan keragaman budaya Aceh, serta membantu melestarikan warisan budaya Indonesia yang tak ternilai harganya.

ISBI Aceh terus-menerus berinovasi dan disiplin dalam melaksanakan pelestarian bahasa dan sastra Aceh melalui aspek pendidikan, sosial, dan teknologi yang terus berkembang.

ISBI Aceh juga terus aktif melaksanakan kegiatan bertemakan kesenian, budaya, dan sastra Aceh. Dengan menyelenggarakan acara budaya dan sastra Aceh di ISBI Aceh, maka akan tercipta sebuah ruang yang nyaman bagi seniman dan budayawan Aceh untuk mengekspresikan kreativitas dan bakat mereka. Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Aceh, seperti meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melestarikan bahasa dan sastra Aceh, serta memberi kesempatan untuk menikmati karya-karya seniman dan budayawan Aceh secara langsung.

Selain itu, acara budaya dan sastra Aceh di ISBI dapat menjadi ajang silaturahmi dan pertukaran ide antarseniman dan budayawan Aceh sehingga dapat memperkuat komunitas seni dan budaya Aceh secara keseluruhan.

Dengan demikian, ISBI Aceh dapat menjadi pusat kegiatan budaya dan sastra Aceh yang dapat memajukan dan memperkuat identitas dan keberagaman budaya Aceh.

ISBI Aceh juga telah membangun komunikasi dengan pihak-pihak terkait. Upaya kerja sama dengan pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat sangat penting dalam upaya pelestarian bahasa dan sastra Aceh.

Bekerja sama dengan lembaga pendidikan seperti sekolah dan universitas, ISBI dapat menyelenggarakan program pelatihan untuk memperkenalkan bahasa dan sastra Aceh kepada generasi muda serta meningkatkan kompetensi guru dalam pengajaran bahasa dan sastra Aceh.

Selain itu, ISBI Aceh juga dapat bekerja sama dengan lembaga budaya dan organisasi masyarakat untuk menyelenggarakan acara budaya dan sastra yang lebih semarak dan beragam di Aceh.

Penerbitan karya sastra Aceh juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan penerbit dan media, baik cetak maupun online, untuk meningkatkan aksesibilitas karya sastra Aceh kepada masyarakat luas. Hal ini juga dapat meningkatkan ekspose sastra Aceh secara nasional maupun internasional. Berkat kerja sama yang kuat antara ISBI Aceh dengan lembaga pemerintah dan nonpemerintah, upaya pelestarian bahasa dan sastra Aceh dapat lebih efektif sehingga warisan budaya Aceh tetap terjaga dan lestari untuk generasi mendatang.

Bahkan, bukanlah hal yang mustahil bila kelak ISBI Aceh dapat mengembangkan teknologi informasi seperti aplikasi penerjemah bahasa Aceh dan perangkat lunak untuk pembelajaran bahasa dan sastra Aceh. Hal ini akan memudahkan aksesibilitas dan penggunaan bahasa dan sastra Aceh oleh masyarakat Aceh dan non-Aceh.

Di era globalisasi dan modernisasi yang terus berkembang, pelestarian bahasa dan sastra Aceh menjadi sangat penting. Bahasa dan sastra Aceh tidak hanya menjadi identitas budaya masyarakat Aceh, tetapi juga bagian dari warisan budaya bangsa yang kaya. Oleh karena itu, upaya pelestarian bahasa dan sastra Aceh harus dilanjutkan dan diperkuat melalui berbagai cara seperti pendidikan, penyelenggaraan acara budaya dan sastra, penerbitan karya sastra, serta kerja sama antarlembaga pemerintah dan nonpemerintah.

Dengan demikian, kita dapat memastikan bahwa bahasa dan sastra Aceh hidup dan berkembang di antara masyarakat Aceh dan di seluruh Indonesia serta menjadi warisan budaya yang tak tergantikan bagi generasi mendatang.

Jln. Transmigrasi, Gampong Bukit Meusara, Kec. Kota Jantho, Kab. Aceh Besar, 23911,, Aceh, Indonesia

Rektorat ISBI Aceh
Email : [email protected]
Telepon : +62 811-6891-581 (Call Center)
Fax : 0651-92023

Isi survei performa situs web

© 2022 Institut Seni Budaya Indonesia Aceh – Webmaster All Rights Reserved – Privacy and Copyright